9 Mekanisme Pertahan Diri Dan Pengertiannya


1.Sublimasi
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Misalnya, kehilangan pacar disalurkan menjadi novel percintaan, dan sebagainya.

2.Regresi
Kembali ke tingkat perkembangan terdahulu. Cenderung bertingkah primitif, misalnya mengamuk, meraung-raung, melempar, merusak, dan sebagainya.

3.Represi
Secara tidak sadar mencegah keinginan atau pikiran-pikiran yang menyakitkan masuk ke dalam kesadaran. Represi membantu individu mengendalikan impuls yang berbahaya. Misalnya melupakan suatu pengalaman traumatik (amnesia). Keinginan yang direpresi dapat muncul kembali bila pertahanan diri melemah atau saat mabuk dan tidur.

4.Proyeksi
Menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kekurangan, keinginan, atau impuls dirinya sendiri

5.Pembentukan reaksi
Bertingkah laku berlebihan yang bertentangan dengan keinginan atau perasaan sebenarnya. Misalnya, pantang membicarakan seks karena dorongan seks yang kuat atau terlalu banyak protes yang berarti sama saja mengakui kesalahan diri sendiri.

6.Rasionalisasi
Memberi keterangan bahwa tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah rasional sehingga tidak menjatuhkan harga diri.

7.Kompensasi
Menutupi kelemahan dengan menonjolkan kemampuannya yang lain.

8.Pengalihan Diri
Merupakan bentuk pertahanan diri menghadapi anxietas adalah dengan cara memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek yang lebih aman hostilitasnya di rumah kepada anak-anaknya. contohnya, seorang mahasiswa yang dimarahi dosennya karena telat mengumpulkan tugas, akan mencoba mencari bentuk pengalihan seperti bermain tinju untuk melampiaskan amarahnya, atau bermain game. Intinya dia mencari objek lain sebagai bentuk pengalihan dari rasa amarah, cemas, takut, dll. Ini juga merupakan mekanisme pertahanan diri yang sering dipakai.

9.Menyangkal Kenyataan (Denial)
Penyangkalan merupakan sebuah tindakan menolak mengaku adanya stimulus yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. Bila individu menyangkal kenyataan, maka dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. Contohnya, seorang anak yang telah divonis dokter mengidap kanker hati, ketika anak tersebut menanyakan kepada orang tuanya sakit apa yang sedang diidapnya, orang tua menjawab bahwa kamu hanya sakit perut biasa, nanti minum obat juga sembuh. Orang tuanya mencoba menyangkal kenyataan yang ada, agar tidak menimbulkan kecemasan. Intinya berbohong kepada diri sendiri.

Post a Comment

Total Pengunjung